Blogging the Satipaṭṭhāna

www.bloggingthekammatthana.wordpress.com

Samadhi, Makanan Apa Itu?

Posted by The Monk pada September 25, 2010

Penyebab penderitaan bukan keinginan, meski sebagian besar terjemahan tanha adalah keinginan. Penyebab penderitaan adalah ketagihan (keinginan yang sudah mulai bernafsu).
Seseorang bukan menghentikan nafsu. Juga bukan menahan nafsu. Bukan begitu caranya. Bukan begitu vedananupassana satipathana dilakukan. Apalagi dengan membuat upacara, lagi-lagi bukan.

Tapi dengan mengamati:
1. Mengamati rasa suka atau taksuka, hingga berubah menjadi netral.
2. Mengamati rasa nyaman atau taknyaman pada fisik, hingga menjadi netral.
3. Mengamati rasa netral pada pikiran, hingga menjadi tak ada rasa.
4. Mengamati rasa netral pada fisik, hingga menjadi tak ada rasa.

Misal, seseorang sudah menghilangkan niat untuk makan, tapi perut masih lapar, karena perut itu bagian dari program kesadaran sebelumnya, saat manusia masih malaikat yang ingin menjadi manusia. Jadi, perlu lanjutkan lagi pengelupasan bawahsadar ini. Bukannya dihipnotis “saya kenyang, saya kenyang!”, apalagi dihipnotis, “saya bukan lapar, cuma belum kenyang saja”, karena hal ini akan membuat wajah mengeras dan menjadi buruk. Seorang buddhist berwajah dan berkulit lembut tapi kebal senjata.

Dengan begitu, saat Buddha meninggalkan istri dan anaknya, berkata, “aku mau pergi dulu mencari obat penderitaan”, itu memang benar. Karena buddhism memecahkan 3 masalah dunia:
1. Kelaparan.
2. Ketakutan.
3. Kesakitan.
Yang timbul karena kelahiran.

Buddha juga memecahkan 3 jenis penderitaan:
I. Dukkha-dukkha (penderitaan mental karena penderitaan fisik atau mental):
1. Sakit
2. Penyakit
3. Penuaan
4. Kematian
5. Kesedihan
II. Viparinama-dukkha (penderitaan karena perubahan):
1. Harapan yang tak terpenuhi.
2. Kebahagiaan yang berakhir.
III. Sankhara-dukkha (penderitaan karena formasi tubuh):
1. Lima kelompok tubuh.
2. Faktor kehendak sebagai pembentuk pikiran.

Ada 3 bentuk ‘pelenyapan’ nafsu yang dilakukan muslim:
1. Menahan nafsu, dengan pura-pura tak mau.
2. Menghentikan nafsu, dengan berpuasa.
3. Melakukan ritual, untuk memasukkan nafsu ke bawahsadar agar dipakai oleh jin.

Ada 1 bentuk pengontrolan nafsu yang dilakukan shaivite:
Berlatih mengolah kebijakan agar energy nafsu berubah menjadi bukan nafsu karena sudah disublimasi oleh Shiva.

Ada 3 bentuk pelenyapan nafsu yang juga 1 bentuk pelenyapan nafsu oleh Buddhist:
1. Vipassana Bhavana.
2. Samadhi.
3. Samatha Bhavana.
Yang paduan ketiganya menghasilkan Jhana (meditasi).

Seseorang yang bukan bhikkhu tak bisa mempraktekkan Vipassana Bhavana, karena ia masih belum menjalankan pemurnian prilaku melalui praktek sila bhikkhu, 1 dari 7 permurnian. Praktek sila bhikkhu sangat mendukung kerja pikiran dalam memperbaiki dirinya, contohnya praktek fisik dalam nafsu seks:
1. “Jika kau melihat wanita, jangan menatapnya”.
2. “Jika harus menatap, jangan bicara”.
3. “Jika harus bicara, perhatikan dirimu sendiri”.

Sesudah berhasil mengawasi perasaan, akan timbul efek dari obyek itu terhadap praktisi, yaitu seperti timbulnya rasa panas, yang bukan gangguan lagi tapi justru membuat tubuh terasa nyaman (Tantra berhenti jika sudah mencapai tahap ini, tapi dengan bentuk latihan lain yang memang diarahkan mencapai tahap ini). Kondisi-kondisi seperti itu itu disebut Piti atau kenyamanan fisikal, sebagai pertanda hancurnya niat buruk (Vyapada) perasaan.
Selengkapnya adalah:
1. Nafsu (kamacchanda) dihancurkan Ekagatta (penyatuan pikiran dengan obyek sehingga obyek menjadi apa adanya).
2. Niat buruk (vyapada) dihancurkan Piti (kenyamanan fisikal).
3. Malas dan loyo (thina middha) dihancurkan Vitakka (gerakan pikiran hendak meraih obyek).
4. Cemasresah (udhacca kukucca) dihancurkan Sukkha (kebahagiaan/kesenangan).
5. Ragu (vicikiccha) dihancurkan Vicara (posisi pikiran yang menahan obyek).

Itulah pertanda Satipathana dalam Vipassana yang dilakukan sudah menembus Appana Samadhi (tingkat konsentrasi termantap), yang dengan mengumpulnya 5 faktor meditasi diatas, meditasi lv1 sudah dimulai.
Selamat bermeditasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: