Blogging the Satipaṭṭhāna

www.bloggingthekammatthana.wordpress.com

Samyojana

Posted by The Monk pada September 4, 2010


 

10 Belenggu mental:
1. Sakkaya-ditthi = kepercayaan akan adanya diri yang abadi.
2. Vicikiccha = keraguan skeptis.
3. Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian.
4. Kamaraga = nafsu indera
5. Patigha = niat jahat/dendam.
6. Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam bermateri.
7. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam tanpa materi.
8. Mana = kesombongan
9. Uddhacca = kegelisahan batin.
10. Avijja = kegelapan batin, tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan, tak mengetahui kebenaran suci, tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu.


“Dalam hal ini seorang bhikku,
Mengetahui mata, mengetahui
obyek-obyek penglihatan, mengetahui semua belenggu yang muncul dari kesadaran mata.
Ia menyadari awal timbulnya belenggu yang tadinya tak ada.
Ia menyadari cara lenyapnya belenggu yang mulai ada.
Ia menyadari bagaimana belenggu yang sudah lenyap tak akan muncul lagi untuk seterusnya.

Dst… dst..”

Sakka: Apa yang menyebabkan keinginan?
Buddha: Adanya kecendrungan untuk mendapat lagi (proliferation)

“Ketika seseorang dalam perasaan senang, dia tidak menikmati atau menegaskan atau menerimanya, kemudian tidak ada kecenderungan pokok yang berkeinginan untuk mendasarinya.
Ketika seseorang dalam perasaan sedih, dia tidak merasa sedih, berduka cita dan meratap, dia tidak memukuli dadanya, meneteskan air mata dan menjadi bingung, lalu tidak ada kecenderungan pokok yang bertahan mendasarinya.
Meskipun seseorang tidak dalam perasaan sedih maupun senang dia mengerti apa yang sebenarnya, asal dan akhir dari perasaan tersebut, atau kepuasan, bahaya dan pelarian (dalam setiap hal), lalu tidak ada kecenderungan pokok yang mengabaikan dasarnya.
Kemudian sesungguhnya, para bhikkhu, bahwa dia akan di sini dan mengakhiri penderitaan dengan menghentikan kecenderungan pokok untuk perasaan menyenangkan, dengan menghapus kecenderungan pokok untuk melawan perasaan menyakitkan, dan dengan menghapus kecenderungan pokok untuk mengabaikan perasaan yang tidak menyakitkan maupun yang tidak menyenangkan, menghentikan kebodohan dan mempunyai pengetahuan benar, hal itu mungkin.”

Contoh:
Seseorang melihat sesuatu, jika ia tak ada niat untuk mendapat lagi hal seperti itu, maka ia tak menindaklanjutinya.
Aplikasikan ini untuk keenam indra, dan lihat untuk keluruhan samyojana yang timbul.
Menghancurkan 5 Samyojana menjadi Anagami. Menghancurkan 10 menjadi Arahat/Buddha.

Samyojana satipatthana berkaitan dengan belenggu 4-10. 1-3 sudah dihancurkan sebelumnya.

2 Tanggapan to “Samyojana”

  1. avijjasesa said

    Salam Hormat,
    Saya hendak mnanya apa belenggu terakhir atau awija itu bisa disamakan tidak ada yang tidak diketahui, dan bagaimanakah timbul tenggelamnya batin yang telah tahu segala sesuatunya itu menjawab suatu pertanyaan penting yang pasti diberikan jawaban dengan tujuan membantu memenculkan mata dhamma di tiap jiwa yang btelah siap memasuki tiap tiap pintu Nibbana yaitu : ( Sotapati, Sakadagami, Anagami, hingga Arahatta ) Magha dan Phala tersebut.

    Terimakasih

    • “apa belenggu terakhir atau awija itu bisa disamakan tidak ada yang tidak diketahui.”
      Yang sadar itu kan pineal, cortex tidak pernah sadar. Avijja adalah belum tertembusnya seluruh akses pineal.
      Jika avijja bisa diartikan tak ada yang tak diketahui adalah salah, karena munculnya pertanyaan “ada yang tak diketahui” berasal dari pikiran manusia (cortex), dan saat “tak ada yang tak diketahui” asalnya dari boddhi (pineal).
      Jadi, jika ia satu Buddha, ia tak akan mengajar “tak ada yang tak diketahui” karena ajaran itu tidak relevan serta bertolakbelakang dengan carakerja sistem saraf manusia yang cuma mengandalkan dualitas sebab-akibat.

      Batin/mental itu ada karena masih adanya kegiatan berpikir.
      Sedang boddhi atau kesadaran/awareness adalah saat kegiatan berpikir sudah berhenti. “aku capek, hilang konsentrasi jadinya tak bijak. akhirnya aku berhenti berpikir dan mengganti dengan bermeditasi” – dvedhavitakka sutta.
      Timbul tenggelamnya batin masih menunjukkan ciri dari pikiran tak terlatih, yang selalu bergolak. Berbeda dengan kesadaran penuh yang selalu eling/sadar, sehingga tiap pertanyaan pasti memunculkan mata dhamma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: