Blogging the Satipaṭṭhāna

www.bloggingthekammatthana.wordpress.com

Samyojana (part 2)

Posted by The Monk pada September 6, 2010

Lanjutan Samyojana.

Cara paling mudah untuk menjadi Arahat dalam hal Samyojana satipatthana adalah dengan menggunakan indra keenam, pikiran.
Seseorang meninjau pikirannya saat itu, adakah kamaraga, patigha, ruparaga, aruparaga, mana, udhacca, dan avijja didalamnya?

Jika ada maka penyebabnya cuma satu, adanya keakuan. Dan penghilangannya cuma satu, penghentian kecendrungan untuk mendapat lagi hal yang sama. Seperti “uang”, “wanita cantik”, “reputasi untuk tak direndahkan”, dsb.

Jika seseorang masih ingin mendapat lagi wanita cantik, maka ia akan menindaklanjuti persepsinya dengan perasaan lagi, maka kembali timbul ide-ide yang sama, sehingga kesadaran tetap ada. Begitupula jika seseorang tetap membalas saat direndahkan, atau tetap ingin makan setiapkali lapar.

Satipatthana-satipatthana itu punya maksud-maksud tertentu dari penemuannya oleh Shakyamunibuddha dan Buddha-Buddha sebelum dan sesudahnya (perlu diperhatikan pula bahwa Jesus dan AnandKhrisna tak termasuk Buddha, karena jika cuma bicara ‘bijak’ anakkecil juga bisa). Misal: Sivathika itu punya maksud agar setiap seseorang jatuhlagi pada wanitacantik ia ingatkan lagi dirinya pada Sivathika saat ia menerapkan samyojana. Karena itulah sivathika itu tak bisa berdirisendiri, seseorang tak bisa menjadi Buddha cuma dari sivathika saja. Jika pandangansalahnya menganggap sivathika saja cukup maka ia akan seperti muslim yang keki setiap melihat wanitacantik dan beralasan, “ah, cuma ciptaan Allah saja”. Tapi sivathika akan sempurna saat seseorang meneruskan dengan samyojana, dimana ia menyadari bahwa kecantikan cuma sementara saja yang berujung pada mayat yang bengkak, atau tinggal tulang. Karena pada dasarnya sivathika itu cuma tentang perubahan akhir tubuh, tak ada obyek wanita dalam sivathika yang dikaitkan dengan mayat.

Ada orang-orang, termasuk buddhist sendiri, yang berkata “wanita itu kan biasa, coba kamu melatih sivathika”. Ini bukan berarti ia sudah mengatasi nafsunya, tapi cuma sekedar bentuk affirmasi atau ikut-ikutan sok alim saja dengan mengedepankan soal mayat-mayat yang membengkak.

Bentuk-bentuk disiplin pandangan yang diwarnai kekerasan seperti “ah, cuma ciptaan Allah saja”, “ah, cuma makhluk allah saja”, “ah, tahan nafsu saja tak sanggup”, “ah tetek saja kayak orang gak pernah lihat”, dst, bukanlah meditasi, tapi cuma tapa, yaitu dalam hal itu tapa untuk mendapat ridho Allah. Karena itulah, ia tetap cuma disiplin pandangan, bukan disiplin pikiran. Karena ia tak punya kemampuan mengkultivasi pikiran, dari pikiran takterlatih menjadi pikiranterlatih.

Pikirantakterlatih adalah pikiran yang mengikuti nafsu, misalnya menikah lalu setiap hari ada jadwal untuk bersetubuh. Pikiranterlatih adalah pikiran yang punya kemampuan mengatur dan melenyapkan nafsu hingga tak muncul lagi untuk selamanya. Kalau pendeta itu masihbisa mimpibasah, itu gak ada apa-apanya, muslim juga bisa seperti itu dengan cara menjadi sufi.  Tapi biksu asli tak mimpibasah lagi karena nafsu diubah menjadi viriya, energy batin tingkattinggi.

Inilah perbedaan antara 7 makhluk:
Hewan, mengidentifikasi dirinya dengan hasrat.
Jin, mengidentifikasi dirinya dengan keinginankuat (ketamakan) nya.
Setan, mengidentifikasi dirinya dengan kebenciannya.
Manusia, mengidentifikasi dirinya dengan pikirannya yang komplit.
Dewa, mengidentifikasi dirinya dengan kekuatan spesialnya.
Brahma, mengidentifikasi dirinya dengan kesadaran.
Buddha, mengidentifikasi dirinya dengan kekosongan.

Jadi kemampuanseks bukan jatidiri makhluk tapi jatidiri manusia saja.

“Saat seseorang berpikir dan meninjau serta mengetahui masih adanya belenggu-belenggu kesucian di pikirannya, ia lalu mengembalikan semuanya sebagai obyek-obyek itu sendiri, bukan sebagai obyek-nya atau obyek-Nya, dengan demikian ia tak akan merasa suka, taksuka, atau netral terhadapnya. Dengan begitu hancurlah semua belenggu yang tersisa, pikirannya menjadi bebas dari obyek-obyek (obyek fisik, obyek perasaan, obyek pikiran, obyek agama) dan putuslah rantai samsara untuk selamanya, ia menjadi Buddha” – Vamabuddha.

Itulah Bodhicitta. Kebuddhaan. Pikiran yang mengerti dan menguasai aspek-aspek dunia dan kekosongannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: