Blogging the Satipaṭṭhāna

www.bloggingthekammatthana.wordpress.com

Samyojana (part 3)

Posted by The Monk pada September 8, 2010

Lanjutan Samyojana (part 2).

Seseorang bertanya pada saya, “bagaimana cara mengatasi ketamakan atas lapar?” Ia hendak membuat saya bingung atas doktrin-doktrin buddhism yang saya pelajari, tapi tetap ada jawaban itu. Saya tenang saja. “Ia berkeringat sesudah berdebat dengan saya” – Buddha di Indriyabhavana Sutta. Orang bisa berkeringat jika jin-jinnya sudah gak bisa mendukung lagi debatnya.

Saya mengatakan bahwa lapar itu memang ketamakan__yang membuatnya terkejut. Tapi para biksu jaman sekarang sulit menjadi Buddha karena mereka selalu diberi makan sebelum betul-betul lapar. Setidaknya mereka tahu sebentar lagi datang makanan, disaat mereka lapar. Karena itu mereka tak pernah hancur belenggu kesembilannya yaitu “keresahan”.
Seseorang selalu resah jika tak makan jika lapar, jika tak ketawa sesudah melihat humor, jika tak kecewa jika gagal. Semua itu adalah bentuk pengkondisian bawahsadar yang berawal dari usaha untuk menghindari keresahan. Resah jika dianggap janggal.

Cuma saja cara-caranya selama ini salah. Selama ini cuma dengan motivasi saja jika non-agama, dan cuma dengan pandangansalah saja jika dengan non-buddhism.
Padahal motivasi tak selalu mengandung program-program yang benar. Karena itulah buddha tak pernah memotivasi orang. Jika orang itu merasa ragu dengan ajaran Buddha, Buddha tak pernah berusaha agar ia yakin. Ia berkata pada Upali yang hendak menjadi muridnya, “kamu teliti dulu sudah benar atau belum ajaran ini”, karena juga merupakan salah satu point yang ia ajar pada masyarakat Kalama agar tak mempercayai sesuatu cuma karena:
1. Kisah yang sudah turun-temurun dipaparkan.
2. Tradisi.
3. Kabar-kabar yang ada di media.
4. Ada di kitab suci atau naskah-naskah kuno.
5. Cocok dengan logika. Logika bisa salah jika data salah.
6. Secara filosofis bisa diterima.
7. Akal. Karena akal bukan jaminan kebenaran, misal akal seorang muslim.
8. Opini seseorang. Opini Anda simpan untuk Anda sendiri, opini Anda bukanlah buddhism. Karena itu atheist tak suka agama.
9. Pihak berwenang atau seorang ahli, misal biksu. Biksu tak selalu ariya/makhluk suci, banyak juga biksu tolol.
10. Guru sendiri.

Jika seseorang itu cacat atau jelek Buddha tak memotivasinya untuk merasa bagus, jika seseorang itu takut Buddha tak memotivasinya untuk berani, jika seseorang itu sedih Buddha tak memotivasinya untuk senang.
Buddha tak akan berkata, “ayo kamu bisa…!” Tapi Buddha akan memaparkan asal masalah dia, cara menuntaskan masalah dia, dan cara mengisi hidup sambil menunggu masalah itu tuntas.

Tercantum dalam sebuah sutta tentang pandangan salah dari seorang biksu tentang kesadaran. Biksu itu ditanyai apa itu kesadaran oleh biksu-biksu lain dalam diskusi, lalu biksu itu dihadapkan ke Buddha.
Contoh bahwa biksu bisa salah:
Buddha: “Apa itu kesadaran?”
Bhikkhu Sati: “Kesadaran adalah segala yang kita rasa dan alami dari dulu hingga sekarang”.
Buddha: “Orang bodoh, kapan saya pernah bilang begitu. Kesadaran datang dan pergi tergantung pada kontak yang juga datang dan pergi”.

Tapi terimalah sesuatu jika itu sudah diselidiki sendiri:
1. Benar.
2. Baik.
3. Disetujui para ariya.
4. Mengkultivasi terus keuntungan dan kebahagiaan.

Kembali ke soal tadi, untuk menghentikan ketamakan akan rasa kenyang, adalah dengan menghentikan niat untuk mendapat lagi rasa kenyang. Sedang sisanya soal lain, lanjutkan latihan.

Satu Tanggapan to “Samyojana (part 3)”

  1. Buddhist punya motif, tak butuh untuk menambahkan motivasi (penumbuhan motif-motif agar terlahir kembali).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: