Blogging the Satipaṭṭhāna

www.bloggingthekammatthana.wordpress.com

Satisampajana, Rileksasi Agama Buddha

Posted by The Monk pada Oktober 12, 2010

“Selanjutnya, seorang bhikku,
Saat berjalan ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat melihat ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat menekuk atau mengulur, tahu yang ia lakukan.
Saat membawa perlengkapan bajunya dan peralatannya, tahu yang ia lakukan.
Saat berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, atau saat bicara atau diam, tahu yang ia lakukan.
Pokoknya sadar semua gerakan yang ia lakukan.”

Hal ini bisa diteruskan seperti:
– Mengamati rasa sakit.
– Mengamati rasa mengantuk.
– Mengamati rasa loyo dan lelah.

Jadi, seorang buddhist tak perlu menghitung mundur, membayangkan berada di tempat indah, atau mendengar ‘musik meditasi’ setiapkali hendak bermeditasi, karena itu semua bukan rileksasi yang sebenarnya.
Pertanda tamatnya Satisampajana adalah saat yang diamati lenyap. Misalnya jika saat berjalan masih merasakan hentakan kaki berarti belum tamat, masih baru mencapai tingkat Samadhi saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: