Blogging the Satipaṭṭhāna

www.bloggingthekammatthana.wordpress.com

Satisampajana, Memurnikan Diri

Posted by The Monk pada Januari 20, 2011

“Seorang bhikku,
Saat berjalan ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat melihat ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat menekuk atau mengulur, tahu yang ia lakukan.
Saat membawa perlengkapan bajunya dan peralatannya, tahu yang ia lakukan.
Saat makan, minum, kunyah, kecap, tahu yang ia lakukan.
Saat kencing atau berak, tahu yang ia lakukan.
Saat berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, atau saat bicara atau diam, tahu yang ia lakukan.
Pokoknya sadar semua gerakan yang ia lakukan.”

“Citra-citra bukan wilayah bhikkhu.
Suara-suara bukan wilayah bhikkhu.
Bebauan bukan wilayah bhikkhu.
Rasa bukan wilayah bhikkhu.
Bentuk-bentuk bukan wilayah bhikkhu.
Ide-ide bukan wilayah bhikkhu.
Semua itu wilayah setan, wilayah bhikkhu adalah perhatianpenuh akan itu semua.” – Makkata Sutta.

Jadi, seorang bhikkhu memperhatikan gerak-geriknya. Jika hal yang ia amati itu terasa indah, ia mengalihkan pandangan ke kegiatan selanjutnya sampai yang ia amati itu tak lagi indah tapi apa adanya. Indah itu karena dulu ia pernah menyukai hal seperti itu.
Makanan, terasa enak, harus mengalihkan perhatian sampai makanan itu terasa biasa dengan sendirinya. Terdengar musik, terasa merdu, harus mengalihkan perhatian sampai musik itu terasa biasa. Perhatian “obyek ini indah (karena ada sisarasa suka)” dialihkan ke “perhatian apa adanya akan obyek (obyek tak indah karena rasa netral berubah menjadi tanpa rasa).”

2 Tanggapan to “Satisampajana, Memurnikan Diri”

  1. Makanan yang diramu enak sudah pasti menimbulkan rasa enak bagi yang menanamkannya dikesadarannya, tapi bagi yang membiarkannya lewat saja akan tercerahkan bahwa tak ada diri pada makanan itu untuk bisa disebut enak.

    “Jika lidah seseorang berfungsi dengan baik tapi obyek rasa tak berhenti di kesadarannya, telah banyak yang dikerjakan oleh bhikkhu tersebut.”
    – Maha Hatthipadopama Sutta.

  2. Menanggapi pertanyaan, “apakah salah seseorang mencicipi rasa enak makanan.”

    Jawabannya, tak salah. Seseorang mencicipi karena ia belum melihat kesia-siaan hidup yang berakhir dengan dukkha. Seseorang yang tercerahkan memilih untuk tak menderita lebihlama/berulangkali.
    Lidah, Telinga, dst itu ada karena dulu ingin itu semua ada sebagai alat mengalami dunia. Setelah puas sekarang sudah saatnya melepas semua itu (nekhamma).

    Pikiran benar (samma sankappa).
    1. Nekkhamma: Pikiran meninggalkan pemuasan nafsu indra.
    2. Abyapada: Pikiran yang meninggalkan niatjahat.
    3. Avihimsa: Pikiran yang meninggalkan kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: