Blogging the Satipaṭṭhāna

www.bloggingthekammatthana.wordpress.com

Menghilangkan Nafsu

Posted by The Monk pada Juni 28, 2011

1. Anapanasati.
Nafas membuat nafsu mudah mengilfitrasi seseorang.

2. Kayagatasati.
Membantu seseorang melihat tubuh wanita secara keseluruhan. Tapi masih ada nafsu yang tersisa yaitu nafsu untuk melihat bagian-bagian baik dari tubuh wanita saja.

3. Dhatuvavatthana.
Membantu memunculkan rasa cinta sesama makhluk (metta).
Tapi tetap mampu memunculkan prema (niat memiliki pasangan).

4. Vedananupassana.
Membantu melenyapkan nafsu selamanya.
lv1 hasilnya perasaan menjadi netral.
lv2 hasilnya menjadi tanpaperasaan.

5. Cittanupassana.
Membantu mengecek hal-hal apa yang membuat seseorang gagal dan hal-hal apa yang membantu menghancurkan rintangan batin yang berkaitan.

6. Nivaranani.
Membantu mengecek:
a. Saat masih ada nafsu pada diri.
b. Saat tak ada nafsu.
c. Saat-saat nafsu itu timbul.
d. Saat-saat nafsu itu berakhir.
e. Apa yang memastikan nafsu itu tak akan kembali untuk selamanya.

7. Iriyapatha dan Satisampajana.
Jika 6 cara diatas tak sesuai dengan ranting perjalanan mental Anda, cobalah manual ini.

Link terkait:
Latihan sadar dan waspada.

 

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Vedananupassana, Pembersihan Bawahsadar

Posted by The Monk pada Januari 20, 2011

“Saat mengalami perasaan menyenangkan, ia sadar ‘ini menyenangkan‘.
Saat mengalami perasaan mengganggu, ia sadar ‘ini mengganggu‘.
Saat mengalami perasaan fisik menyenangkan, ia sadar ‘ini menyenangkan‘.
Saat mengalami perasaan fisik mengganggu, ia sadar ‘ini mengganggu‘.
Saat mengalami perasaan bukan tak menyenangkan dan bukan tak mengganggu, ia sadar ‘ini bukan tak menyenangkan dan bukan tak mengganggu‘.”

Muncul rasa senang, diamati berubah menjadi netral (bukan tak menyenangkan dan bukan tak mengganggu). Netral akan mengeluarkan kekuatan bawahsadar terpendam seperti suka, diamati lagi berubah menjadi tanpa rasa. Final, isi bawahsadar itu tak akan muncul lagi untuk selamanya.

Meskipun pada manual terdapat pengamatan untuk rasa taksuka, tapi sebenarnya tak ada yang bisa mengamati rasa taksuka. Itu cuma untuk mengetahui kehadirannya saja, bukan untuk diamati, karena saat berniat begitu langsung lenyap, karena rasa taksuka cuma akibat takpernah sadar akan kehadiran rasasuka. Jadi praktek vedananupassana sebenarnya adalah: Mengamati rasasuka (fisik dan mental), mengamati rasa netral (fisik saja). Rasa netral tak mungkin muncul di lapis sadar yang menguasai fisik dan mental, tapi cuma muncul di lapis bawahsadar yang menguasai fisik saja. Bawahsadar adalah apa yang sudah “jadi”, seperti fisik, dan dunia yang bisa dialami langsung.

Disiplin fisik yang mempercepat pembersihan bawahsadar adalah berpuasa setiapmalam seumur hidup.

Posted in Vedananupassana | 4 Comments »

Satisampajana, Memurnikan Diri

Posted by The Monk pada Januari 20, 2011

“Seorang bhikku,
Saat berjalan ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat melihat ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat menekuk atau mengulur, tahu yang ia lakukan.
Saat membawa perlengkapan bajunya dan peralatannya, tahu yang ia lakukan.
Saat makan, minum, kunyah, kecap, tahu yang ia lakukan.
Saat kencing atau berak, tahu yang ia lakukan.
Saat berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, atau saat bicara atau diam, tahu yang ia lakukan.
Pokoknya sadar semua gerakan yang ia lakukan.”

“Citra-citra bukan wilayah bhikkhu.
Suara-suara bukan wilayah bhikkhu.
Bebauan bukan wilayah bhikkhu.
Rasa bukan wilayah bhikkhu.
Bentuk-bentuk bukan wilayah bhikkhu.
Ide-ide bukan wilayah bhikkhu.
Semua itu wilayah setan, wilayah bhikkhu adalah perhatianpenuh akan itu semua.” – Makkata Sutta.

Jadi, seorang bhikkhu memperhatikan gerak-geriknya. Jika hal yang ia amati itu terasa indah, ia mengalihkan pandangan ke kegiatan selanjutnya sampai yang ia amati itu tak lagi indah tapi apa adanya. Indah itu karena dulu ia pernah menyukai hal seperti itu.
Makanan, terasa enak, harus mengalihkan perhatian sampai makanan itu terasa biasa dengan sendirinya. Terdengar musik, terasa merdu, harus mengalihkan perhatian sampai musik itu terasa biasa. Perhatian “obyek ini indah (karena ada sisarasa suka)” dialihkan ke “perhatian apa adanya akan obyek (obyek tak indah karena rasa netral berubah menjadi tanpa rasa).”

Posted in Satisampajana | 2 Comments »

Cara Kerja Vipassana Bhavana

Posted by The Monk pada November 1, 2010

Kelenjar Pineal adalah kelenjar yang paling misterius di dalam tubuh manusia. Buddha menyebutnya tempat awareness. Berjuta-juta tahun yang lalu, binatang reptil kuno memiliki mata ketiga berada di puncak kepala, yang sangat sensitive terhadap cahaya dan mengatur perputaran irama alami pada tubuh mereka. Dalam perjalanan evolusi, “mata” tersebut telah masuk ke otak dan menjadi kelenjar pineal pada binatang mamalia, termasuk manusia yang masih sensitive terhadap cahaya.

Akhir-akhir ini para peneliti lebih banyak memberi perhatian pada kelenjar pineal. Eksperimen-eksperimen dilakukan diberbagai pusat kesehatan diseluruh dunia, khususnya di University of New South Wales di Australia. Para Ilmuwan telah menemukan bahwa kelenjar ini mengeluarkan hormon yang sangat ampuh yang disebut melatonin, yang membuat pikiran menjadi introvertif yang memberikan rasa kebahagiaan tanpa batas serta kesadaran yang lebih tinggi.

Sebenarnya Kelenjar Pineal ini menghasilkan dua macam hormon penting dalam mengendalikan aktifitas manusia. Kelenjar ini berfungsi juga mengeluarkan hormon serotonin yang memberikan pengaruh semangat untuk melakukan aktifitas fisik. Ini terjadi khususnya pada siang hari dimana kelenjar-kelenjar yang dibawahnya sangat aktif karena kegiatan fisik tubuh. Sebaliknya pada malam hari dimana semua kelenjar-kelenjar dibawahnya menjadi kurang aktif, kelenjar ini mencapai puncak fungsinya mengeluarkan hormon melatonin.

Sejak berabad-abad, para yogi (praktisi ‘meditasi’ agama hindu) mengembangkan banyak latihan-latihan bersifat fisik dan mental seperti meditasi yang disusun untuk menpengaruhi kelenjar pineal untuk mencapai ketenangan dan memperdalam pikiran serta bimbingan-bimbingan untuk mencapai kesadaran tertinggi. Beberapa yoga yang tak berhubungan dengan pembebasan, seperti hatha yoga secara tak langsung membantu menghasilkan Melatonin yang memberi kesabaran dan kedamaian pikiran serta mengembangkan daya ingatan. Sedang yoga yang berhubungan dengan pembebasan yaitu Kriya Yoga dan Kundalini Yoga versi asli yang cuma diketahui penulis blog ini bisa bekerjasama dengan latihan buddhism.

Beberapa pakar percaya itu merupakan Pusat yang membawa “kode kehidupan” dan memberi perintah pada tubuh. Penelitian akademis baru-baru ini telah menemukan bahwa kelenjar pineal mengandung sel-sel peka-cahaya yang berfungsi sebagaimana retina mata, membuktikan fakta bahwa kelenjar pineal bisa “melihat”. Jika kelenjar pineal berhubungan dengan cakra mahkota, maka kelenjar pituari berhubungan dengan cakra ajna (meski begitu kelenjar pineal juga menyempurnakan dayakerja cakra ajna). Penelitian modern terhadap produksi melatonin oleh kelenjar pineal telah menyingkap tabir misterinya atas beberapa hal.

Kelenjar pineal adalah organ berbentuk kerucut yang datar seukuran kacang kapri terletak di bagian tengah otak tengah. Berat massa terbesarnya dicapai pada masa kanak-kanak, tapi mengapur dan menciut dengan meningkatnya usia. Produksi melatonin oleh kelenjar pineal ditentukan oleh jumlah cahaya yang diterima, karena kelenjar itu berperan sebagai jam tubuh, karena kepekaannya terhadap cahaya dan pengaturan siklus tidur-bangun. Sepanjang tidur tengah malam, tingkat melatonin dalam tubuh naik, mencapai puncaknya antara jam 11 malam hingga jam 2 dini hari, dan lalu merosot tajam begitu hari yang baru terbit. Produksi melatonin berkaitan dengan usia, meningkat tiga bulan setelah kelahiran, mencapai puncak pada usia enam tahun dan mulai merosot setelah masa pubertas.

Selama ini orang mengenal kelenjar pineal cuma bisa dibangkitkan dengan latihan hinduism, tapi sebenarnya tak. Justru yang mengoptimalkannya 100% cuma latihan buddhism. Yaitu dengan Vipassana Bhavana. Tapi cuma para bhikkhu yang bisa melakukannya, karena adanya ‘resiko’ melemahnya ereksi, dan tak kembalinya ereksi untuk selamanya di kehidupan mendatang. Hal ini berbeda dengan para pendeta yang bisa menjadi pendeta tanpa adanya kejadian itu.

Saat memulai kehidupan barunya, seorang bhikkhu mengerti daerah mana saja yang merupakan daerahnya, dan mana yang bukan daerah bhikkhu. Seperti yang dikatakan dalam Makkata Sutta, “Jika bhikkhu berkelana di daerah lain maka setan akan menangkapnya, tapi jika ia berkelana dalam daerahnya sendiri maka setan tak bisa menangkapnya.” Daerah lain itu adalah apapun yang diindrai, seperti suara, bentuk-bentuk, dst. Sedang daerahnya sendiri adalah perhatian penuh akan 4 hal (fisik, perasaan, pikiran, obyek-obyek).

Jika bhikkhu berkelana di harta misalnya, maka setan bisa menangkapnya, lalu menekan kebhikkhuannya melalui harta. Dsb. Karena itu, semua upadhi (perolehan indra) seperti internet, makanan, suara-suara, bukanlah kehidupan bhikkhu. Perhatian penuhnya akan itulah kehidupannya. Dari pengertian ini, ia bisa mulai latihan vipassananya. Semakin lama ia berlatih, kebuddhaan/awareness/bodhinya semakin teroptimalisasi, dan saat menjadi Buddha ia sudah tak menggunakan otak lagi, tapi 100% cuma beroperasi dari kelenjar pineal. Sampai-sampai Sang Buddha saat berbicara dengan Ananda terpaksa membuang banyak energy hidupnya ke angkasa, agar umurnya menjadi pendek dan bisa mati normal seperti manusia lain.

Meski begitu, karena ia sudah menjadi Buddha, saat tubuhnya mati, tubuhnya menjadi luarbiasa berat karena sudah tamat berlatih kekosongan, akhirnya sisa tubuhnya yang tak hangus terbakar menjadi sarira, yang kadang sering dipakai para pekungfu untuk meningkatkan sinkang mereka.

Banyak juga kaum beragama lain yang ingin sekuat buddhist tapi tak mampu karena latihannya salah, akibatnya cuma menghasilkan kehidupan yang berpusat pada seks yang dibismillahi, makan yang dibismillahi, dan sejenisnya. Itu bukan apa-apa. Masih belum perhatian penuh akan upadhi, tapi cuma perhatian penuh akan Allah.

 

Posted in Bodhicitta | Leave a Comment »

Satisampajana, Rileksasi Agama Buddha

Posted by The Monk pada Oktober 12, 2010

“Selanjutnya, seorang bhikku,
Saat berjalan ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat melihat ke depan atau belakang, tahu yang ia lakukan.
Saat menekuk atau mengulur, tahu yang ia lakukan.
Saat membawa perlengkapan bajunya dan peralatannya, tahu yang ia lakukan.
Saat berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, atau saat bicara atau diam, tahu yang ia lakukan.
Pokoknya sadar semua gerakan yang ia lakukan.”

Hal ini bisa diteruskan seperti:
– Mengamati rasa sakit.
– Mengamati rasa mengantuk.
– Mengamati rasa loyo dan lelah.

Jadi, seorang buddhist tak perlu menghitung mundur, membayangkan berada di tempat indah, atau mendengar ‘musik meditasi’ setiapkali hendak bermeditasi, karena itu semua bukan rileksasi yang sebenarnya.
Pertanda tamatnya Satisampajana adalah saat yang diamati lenyap. Misalnya jika saat berjalan masih merasakan hentakan kaki berarti belum tamat, masih baru mencapai tingkat Samadhi saja.

Posted in Satisampajana | Leave a Comment »

Samadhi, Makanan Apa Itu?

Posted by The Monk pada September 25, 2010

Penyebab penderitaan bukan keinginan, meski sebagian besar terjemahan tanha adalah keinginan. Penyebab penderitaan adalah ketagihan (keinginan yang sudah mulai bernafsu).
Seseorang bukan menghentikan nafsu. Juga bukan menahan nafsu. Bukan begitu caranya. Bukan begitu vedananupassana satipathana dilakukan. Apalagi dengan membuat upacara, lagi-lagi bukan.

Tapi dengan mengamati:
1. Mengamati rasa suka atau taksuka, hingga berubah menjadi netral.
2. Mengamati rasa nyaman atau taknyaman pada fisik, hingga menjadi netral.
3. Mengamati rasa netral pada pikiran, hingga menjadi tak ada rasa.
4. Mengamati rasa netral pada fisik, hingga menjadi tak ada rasa.

Misal, seseorang sudah menghilangkan niat untuk makan, tapi perut masih lapar, karena perut itu bagian dari program kesadaran sebelumnya, saat manusia masih malaikat yang ingin menjadi manusia. Jadi, perlu lanjutkan lagi pengelupasan bawahsadar ini. Bukannya dihipnotis “saya kenyang, saya kenyang!”, apalagi dihipnotis, “saya bukan lapar, cuma belum kenyang saja”, karena hal ini akan membuat wajah mengeras dan menjadi buruk. Seorang buddhist berwajah dan berkulit lembut tapi kebal senjata.

Dengan begitu, saat Buddha meninggalkan istri dan anaknya, berkata, “aku mau pergi dulu mencari obat penderitaan”, itu memang benar. Karena buddhism memecahkan 3 masalah dunia:
1. Kelaparan.
2. Ketakutan.
3. Kesakitan.
Yang timbul karena kelahiran.

Buddha juga memecahkan 3 jenis penderitaan:
I. Dukkha-dukkha (penderitaan mental karena penderitaan fisik atau mental):
1. Sakit
2. Penyakit
3. Penuaan
4. Kematian
5. Kesedihan
II. Viparinama-dukkha (penderitaan karena perubahan):
1. Harapan yang tak terpenuhi.
2. Kebahagiaan yang berakhir.
III. Sankhara-dukkha (penderitaan karena formasi tubuh):
1. Lima kelompok tubuh.
2. Faktor kehendak sebagai pembentuk pikiran.

Ada 3 bentuk ‘pelenyapan’ nafsu yang dilakukan muslim:
1. Menahan nafsu, dengan pura-pura tak mau.
2. Menghentikan nafsu, dengan berpuasa.
3. Melakukan ritual, untuk memasukkan nafsu ke bawahsadar agar dipakai oleh jin.

Ada 1 bentuk pengontrolan nafsu yang dilakukan shaivite:
Berlatih mengolah kebijakan agar energy nafsu berubah menjadi bukan nafsu karena sudah disublimasi oleh Shiva.

Ada 3 bentuk pelenyapan nafsu yang juga 1 bentuk pelenyapan nafsu oleh Buddhist:
1. Vipassana Bhavana.
2. Samadhi.
3. Samatha Bhavana.
Yang paduan ketiganya menghasilkan Jhana (meditasi).

Seseorang yang bukan bhikkhu tak bisa mempraktekkan Vipassana Bhavana, karena ia masih belum menjalankan pemurnian prilaku melalui praktek sila bhikkhu, 1 dari 7 permurnian. Praktek sila bhikkhu sangat mendukung kerja pikiran dalam memperbaiki dirinya, contohnya praktek fisik dalam nafsu seks:
1. “Jika kau melihat wanita, jangan menatapnya”.
2. “Jika harus menatap, jangan bicara”.
3. “Jika harus bicara, perhatikan dirimu sendiri”.

Sesudah berhasil mengawasi perasaan, akan timbul efek dari obyek itu terhadap praktisi, yaitu seperti timbulnya rasa panas, yang bukan gangguan lagi tapi justru membuat tubuh terasa nyaman (Tantra berhenti jika sudah mencapai tahap ini, tapi dengan bentuk latihan lain yang memang diarahkan mencapai tahap ini). Kondisi-kondisi seperti itu itu disebut Piti atau kenyamanan fisikal, sebagai pertanda hancurnya niat buruk (Vyapada) perasaan.
Selengkapnya adalah:
1. Nafsu (kamacchanda) dihancurkan Ekagatta (penyatuan pikiran dengan obyek sehingga obyek menjadi apa adanya).
2. Niat buruk (vyapada) dihancurkan Piti (kenyamanan fisikal).
3. Malas dan loyo (thina middha) dihancurkan Vitakka (gerakan pikiran hendak meraih obyek).
4. Cemasresah (udhacca kukucca) dihancurkan Sukkha (kebahagiaan/kesenangan).
5. Ragu (vicikiccha) dihancurkan Vicara (posisi pikiran yang menahan obyek).

Itulah pertanda Satipathana dalam Vipassana yang dilakukan sudah menembus Appana Samadhi (tingkat konsentrasi termantap), yang dengan mengumpulnya 5 faktor meditasi diatas, meditasi lv1 sudah dimulai.
Selamat bermeditasi.

Posted in Vedananupassana | Leave a Comment »

Khandha

Posted by The Monk pada September 10, 2010

Terciptanya pikiran:
“1. Kesadaran: Ada kontak menimbulkan kesadaran.
2. Perasaan: Ada kesadaran menimbulkan perasaan.
3. Persepsi: Ada perasaan menimbulkan persepsi.
4. Ide: Ada persepsi menimbulkan ide. Ide-ide ini kembali membentuk kesadaran, karena ketaktahuannya.”
– Chachakka Sutta

Lalu berulanglah lagi satu samsara:
“Dan apakah sebab-musabab yang bergantungan itu?
1. Dari ketaktahuan (avijja) muncullah ide (sankhara).
2. Dari ide (sankhara) muncullah kesadaran (vinnana).
3. Dari kesadaran (vinnana) muncullah batin dan jasmani (nama-rupa). Dari batin dan jasmani (nama-rupa) muncullah enam indera (salayatana). Dari enam indera (salayatana) muncullah kontak (phassa). Dari kontak (phassa) muncullah perasaan (vedana).
4. Dari perasaan (vedana) muncullah keinginan (tanha). Dari keinginan (tanha) muncullah kemelekatan (upadana). Dari kemelekatan (upadana) muncullah proses kelahiran kembali (bhava). Dari proses kelahiran kembali (bhava) sebagai kondisi penyebab maka muncullah kelahiran kembali (jati). Dari kelahiran kembali (jati) sebagai kondisi penyebab maka muncullah kelapukan dan kematian, duka cita, sakit, kesusahan dan keputus-asaan (jaramaranang). Demikianlah penyebab dari seluruh kesusahan dan penderitaan.”

– Paticca-samuppada-vibhanga Sutta

Satipathana yang dilakukan Sidhatta Gotama untuk mencari obat sakit, tua, dan mati adalah Khandha Satipatthana:
“Dalam hal ini seorang bhikku tahu,
Beginilah kesadaran, beginilah munculnya kesadaran, beginilah lenyapnya kesadaran.
Beginilah perasaan, beginilah munculnya perasaan, beginilah lenyapnya perasaan.
Beginilah persepsi, beginilah munculnya persepsi, beginilah lenyapnya persepsi.
Beginilah ide, beginilah munculnya ide, beginilah lenyapnya ide.
Beginilah fisik, beginilah munculnya fisik, beginilah lenyapnya fisik.”

= Maha satipatthana Sutta

Contoh:
Orang yang masih muda ingin merasakan berumahtangga, tapi karena tak berlatih vipassana bhavana ia cuma melihatnya dari satu sisi saja, yaitu sisi yang dipenuhi pandangan keakuan tentang apa yang benar apa yang salah. Seandainya ia memandangnya secara murni tentang apa yang benar apa yang salah maka ia akan melihat bahwa kenikmatan itu cuma sementara sementara umur terus menua dan menyongsong penyakit dan kematian. “hidup itu panjang bagi orang yang tak sadar, pendek bagi orang yang sadar” – Dhammapada.
Dan saat umur terus menua, sakit, dan hendak mati, apalagi yang terbaik yang bisa ia lakukan selain dari berbuat baik agar terlahir lebih tampan, lebih sakti, dan lebih kaya.
Hendaknya ia bersatipathana dan menyadari “beginilah berumahtangga, munculnya saat masih ada pasangan, lenyapnya saat lenyap pasangan. beginilah rasanya berumahtangga, enaknya saat masih berumahtangga, gak enaknya saat tak berumahtangga lagi. beginilah bentuk rumahtangga, bagusnya saat masih muda, gak bagusnya saat sudah tua. beginilah ide ini, munculnya saat terkondisi pandangan salah, lenyapnya saat terkondisi pandangan benar. beginilah rumahtangga, muncul jika terpengaruh pandangan salah, lenyap saat kembali ke jalan yang benar.”
Hal yang sama bisa diterapkan untuk obyek “cinta”. “beginilah cinta, munculnya saat ada rasa, lenyapnya saat lenyap rasa. beginilah rasanya cinta, enaknya saat masih bercinta, gakenaknya saat orangnya mati. Dst… Dst… Dst…” Jadi, cinta memang panjang umurnya, lebih panjang dari kematian. Tapi enaknya cuma sebentar, kalo lawanmain gak ada lagi sudah gak enak. Biasanya lalu mengalihkan perhatian pada filosofi, misal “bertemu karena allah berpisah karena allah” meski tak bisa mengubah kenyataan akan fenomena cinta itu sendiri.

Siddhatta sendiri dulu itu menggunakan obyek “penderitaan” untuk khandha satipatthana. Ia terus memperhatikannya sehingga muncul 7 faktor pencerahan, muncul gangguan-gangguan seperti Mara, muncul ilusi seperti cahaya, hingga akhirnya vipassananya menghasilkan samadhi dan bersatu dengan samatha bhavana lalu ia meneruskannya lagi hingga muncul meditasi demi meditasi hingga tembus Nibbana (level 1o).

Posted in Khandha | Leave a Comment »

Tanha

Posted by The Monk pada September 10, 2010

Ada 3 ketagihan:

1. Kama tanha: Ketagihan melihat bentuk-bentuk bagus, suara-suara indah, wewangian, makanan dan minuman lezat, sentuhan lembut, ilmu-ilmu baru.
Terjadi karena pikiran terus merekam apa yang disuka dan takdisuka.
Menghentikannya dengan menghentikan perasaan. Hasilnya mampu melihat semua penderitaan pada tubuhnya tanpa rasasakit.

2. Bhava tanha: Ketagihan untuk menjadi bentuk-bentuk baru seperti direktur, dewa, dsb.
Terjadi karena menganut pandangan salah. Misal: Mengucap “terimakasih” saat diejek atau dibentak. Melakukan shalat dan puasa. Berusaha agar menang selalu dalam kehidupan, diajar untuk kaya dan berhasil. Ingin jadi biksu, ingin jadi Buddha.
Seorang biksu yang gagal berlatih akan berubah kebanci-bancian_ini bukan yang ditunjukkan Buddha, tapi bagi yang selesai berlatih aspek kewanitaannya pun berhasil ia hapus. Sedang bagi biksuni yang gagal tak akan berubah jadi macho karena wanita tak punya aspek lelaki dalam dirinya.
Menghentikannya dengan tak berdiam pada setiap bentuk-bentuk. Bentuk manusia, bentuk pria, bentuk wanita, dsb. Menjadi banci terjadi karena keinginan sendiri, misal karena ajaran salah bahwa harus selembut wanita dsb. Sedang menjadi gay adalah karmaburuk, yaitu karena melakukan incest dimasalalu.

3. Vibhava tanha: Ketagihan untuk berhenti menjadi seperti menjadi Tuhan atau menjadi hilang.
Terjadi karena terburu-buru belajar, karena ingin berbuat baik, karena ingin memperkuat Diri dengan membungkusnya sebagai sesuatu yang suci seperti Keberadaan.
Contoh: Seseorang yang memaksa dirinya untuk menjadi biksu padahal belum meneliti ajaran buddhism dengan seksama dan belum mencoba latihan-latihannya.
Menghentikannya dengan mengikuti proses karma dan pembelajaran yang terjadi secara netral.

Posted in Sacca | 2 Comments »

Samyojana (part 3)

Posted by The Monk pada September 8, 2010

Lanjutan Samyojana (part 2).

Seseorang bertanya pada saya, “bagaimana cara mengatasi ketamakan atas lapar?” Ia hendak membuat saya bingung atas doktrin-doktrin buddhism yang saya pelajari, tapi tetap ada jawaban itu. Saya tenang saja. “Ia berkeringat sesudah berdebat dengan saya” – Buddha di Indriyabhavana Sutta. Orang bisa berkeringat jika jin-jinnya sudah gak bisa mendukung lagi debatnya.

Saya mengatakan bahwa lapar itu memang ketamakan__yang membuatnya terkejut. Tapi para biksu jaman sekarang sulit menjadi Buddha karena mereka selalu diberi makan sebelum betul-betul lapar. Setidaknya mereka tahu sebentar lagi datang makanan, disaat mereka lapar. Karena itu mereka tak pernah hancur belenggu kesembilannya yaitu “keresahan”.
Seseorang selalu resah jika tak makan jika lapar, jika tak ketawa sesudah melihat humor, jika tak kecewa jika gagal. Semua itu adalah bentuk pengkondisian bawahsadar yang berawal dari usaha untuk menghindari keresahan. Resah jika dianggap janggal.

Cuma saja cara-caranya selama ini salah. Selama ini cuma dengan motivasi saja jika non-agama, dan cuma dengan pandangansalah saja jika dengan non-buddhism.
Padahal motivasi tak selalu mengandung program-program yang benar. Karena itulah buddha tak pernah memotivasi orang. Jika orang itu merasa ragu dengan ajaran Buddha, Buddha tak pernah berusaha agar ia yakin. Ia berkata pada Upali yang hendak menjadi muridnya, “kamu teliti dulu sudah benar atau belum ajaran ini”, karena juga merupakan salah satu point yang ia ajar pada masyarakat Kalama agar tak mempercayai sesuatu cuma karena:
1. Kisah yang sudah turun-temurun dipaparkan.
2. Tradisi.
3. Kabar-kabar yang ada di media.
4. Ada di kitab suci atau naskah-naskah kuno.
5. Cocok dengan logika. Logika bisa salah jika data salah.
6. Secara filosofis bisa diterima.
7. Akal. Karena akal bukan jaminan kebenaran, misal akal seorang muslim.
8. Opini seseorang. Opini Anda simpan untuk Anda sendiri, opini Anda bukanlah buddhism. Karena itu atheist tak suka agama.
9. Pihak berwenang atau seorang ahli, misal biksu. Biksu tak selalu ariya/makhluk suci, banyak juga biksu tolol.
10. Guru sendiri.

Jika seseorang itu cacat atau jelek Buddha tak memotivasinya untuk merasa bagus, jika seseorang itu takut Buddha tak memotivasinya untuk berani, jika seseorang itu sedih Buddha tak memotivasinya untuk senang.
Buddha tak akan berkata, “ayo kamu bisa…!” Tapi Buddha akan memaparkan asal masalah dia, cara menuntaskan masalah dia, dan cara mengisi hidup sambil menunggu masalah itu tuntas.

Tercantum dalam sebuah sutta tentang pandangan salah dari seorang biksu tentang kesadaran. Biksu itu ditanyai apa itu kesadaran oleh biksu-biksu lain dalam diskusi, lalu biksu itu dihadapkan ke Buddha.
Contoh bahwa biksu bisa salah:
Buddha: “Apa itu kesadaran?”
Bhikkhu Sati: “Kesadaran adalah segala yang kita rasa dan alami dari dulu hingga sekarang”.
Buddha: “Orang bodoh, kapan saya pernah bilang begitu. Kesadaran datang dan pergi tergantung pada kontak yang juga datang dan pergi”.

Tapi terimalah sesuatu jika itu sudah diselidiki sendiri:
1. Benar.
2. Baik.
3. Disetujui para ariya.
4. Mengkultivasi terus keuntungan dan kebahagiaan.

Kembali ke soal tadi, untuk menghentikan ketamakan akan rasa kenyang, adalah dengan menghentikan niat untuk mendapat lagi rasa kenyang. Sedang sisanya soal lain, lanjutkan latihan.

Posted in Samyojana | 1 Comment »

Samyojana (part 2)

Posted by The Monk pada September 6, 2010

Lanjutan Samyojana.

Cara paling mudah untuk menjadi Arahat dalam hal Samyojana satipatthana adalah dengan menggunakan indra keenam, pikiran.
Seseorang meninjau pikirannya saat itu, adakah kamaraga, patigha, ruparaga, aruparaga, mana, udhacca, dan avijja didalamnya?

Jika ada maka penyebabnya cuma satu, adanya keakuan. Dan penghilangannya cuma satu, penghentian kecendrungan untuk mendapat lagi hal yang sama. Seperti “uang”, “wanita cantik”, “reputasi untuk tak direndahkan”, dsb.

Jika seseorang masih ingin mendapat lagi wanita cantik, maka ia akan menindaklanjuti persepsinya dengan perasaan lagi, maka kembali timbul ide-ide yang sama, sehingga kesadaran tetap ada. Begitupula jika seseorang tetap membalas saat direndahkan, atau tetap ingin makan setiapkali lapar.

Satipatthana-satipatthana itu punya maksud-maksud tertentu dari penemuannya oleh Shakyamunibuddha dan Buddha-Buddha sebelum dan sesudahnya (perlu diperhatikan pula bahwa Jesus dan AnandKhrisna tak termasuk Buddha, karena jika cuma bicara ‘bijak’ anakkecil juga bisa). Misal: Sivathika itu punya maksud agar setiap seseorang jatuhlagi pada wanitacantik ia ingatkan lagi dirinya pada Sivathika saat ia menerapkan samyojana. Karena itulah sivathika itu tak bisa berdirisendiri, seseorang tak bisa menjadi Buddha cuma dari sivathika saja. Jika pandangansalahnya menganggap sivathika saja cukup maka ia akan seperti muslim yang keki setiap melihat wanitacantik dan beralasan, “ah, cuma ciptaan Allah saja”. Tapi sivathika akan sempurna saat seseorang meneruskan dengan samyojana, dimana ia menyadari bahwa kecantikan cuma sementara saja yang berujung pada mayat yang bengkak, atau tinggal tulang. Karena pada dasarnya sivathika itu cuma tentang perubahan akhir tubuh, tak ada obyek wanita dalam sivathika yang dikaitkan dengan mayat.

Ada orang-orang, termasuk buddhist sendiri, yang berkata “wanita itu kan biasa, coba kamu melatih sivathika”. Ini bukan berarti ia sudah mengatasi nafsunya, tapi cuma sekedar bentuk affirmasi atau ikut-ikutan sok alim saja dengan mengedepankan soal mayat-mayat yang membengkak.

Bentuk-bentuk disiplin pandangan yang diwarnai kekerasan seperti “ah, cuma ciptaan Allah saja”, “ah, cuma makhluk allah saja”, “ah, tahan nafsu saja tak sanggup”, “ah tetek saja kayak orang gak pernah lihat”, dst, bukanlah meditasi, tapi cuma tapa, yaitu dalam hal itu tapa untuk mendapat ridho Allah. Karena itulah, ia tetap cuma disiplin pandangan, bukan disiplin pikiran. Karena ia tak punya kemampuan mengkultivasi pikiran, dari pikiran takterlatih menjadi pikiranterlatih.

Pikirantakterlatih adalah pikiran yang mengikuti nafsu, misalnya menikah lalu setiap hari ada jadwal untuk bersetubuh. Pikiranterlatih adalah pikiran yang punya kemampuan mengatur dan melenyapkan nafsu hingga tak muncul lagi untuk selamanya. Kalau pendeta itu masihbisa mimpibasah, itu gak ada apa-apanya, muslim juga bisa seperti itu dengan cara menjadi sufi.  Tapi biksu asli tak mimpibasah lagi karena nafsu diubah menjadi viriya, energy batin tingkattinggi.

Inilah perbedaan antara 7 makhluk:
Hewan, mengidentifikasi dirinya dengan hasrat.
Jin, mengidentifikasi dirinya dengan keinginankuat (ketamakan) nya.
Setan, mengidentifikasi dirinya dengan kebenciannya.
Manusia, mengidentifikasi dirinya dengan pikirannya yang komplit.
Dewa, mengidentifikasi dirinya dengan kekuatan spesialnya.
Brahma, mengidentifikasi dirinya dengan kesadaran.
Buddha, mengidentifikasi dirinya dengan kekosongan.

Jadi kemampuanseks bukan jatidiri makhluk tapi jatidiri manusia saja.

“Saat seseorang berpikir dan meninjau serta mengetahui masih adanya belenggu-belenggu kesucian di pikirannya, ia lalu mengembalikan semuanya sebagai obyek-obyek itu sendiri, bukan sebagai obyek-nya atau obyek-Nya, dengan demikian ia tak akan merasa suka, taksuka, atau netral terhadapnya. Dengan begitu hancurlah semua belenggu yang tersisa, pikirannya menjadi bebas dari obyek-obyek (obyek fisik, obyek perasaan, obyek pikiran, obyek agama) dan putuslah rantai samsara untuk selamanya, ia menjadi Buddha” – Vamabuddha.

Itulah Bodhicitta. Kebuddhaan. Pikiran yang mengerti dan menguasai aspek-aspek dunia dan kekosongannya.

Posted in Samyojana | Leave a Comment »

Samyojana

Posted by The Monk pada September 4, 2010


 

10 Belenggu mental:
1. Sakkaya-ditthi = kepercayaan akan adanya diri yang abadi.
2. Vicikiccha = keraguan skeptis.
3. Silabbata-paramasa = kepercayaan bahwa hanya dengan ritual keagamaan dapat merealisasi kesucian.
4. Kamaraga = nafsu indera
5. Patigha = niat jahat/dendam.
6. Ruparaga = hasrat untuk memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam bermateri.
7. Aruparaga = nafsu untuk tidak memiliki fisik/nafsu untuk tumimbal lahir di alam tanpa materi.
8. Mana = kesombongan
9. Uddhacca = kegelisahan batin.
10. Avijja = kegelapan batin, tak dapat membedakan kebaikan dari keburukan, tak mengetahui kebenaran suci, tak mengetahui hakekat sesungguhnya segala sesuatu.


“Dalam hal ini seorang bhikku,
Mengetahui mata, mengetahui
obyek-obyek penglihatan, mengetahui semua belenggu yang muncul dari kesadaran mata.
Ia menyadari awal timbulnya belenggu yang tadinya tak ada.
Ia menyadari cara lenyapnya belenggu yang mulai ada.
Ia menyadari bagaimana belenggu yang sudah lenyap tak akan muncul lagi untuk seterusnya.

Dst… dst..”

Sakka: Apa yang menyebabkan keinginan?
Buddha: Adanya kecendrungan untuk mendapat lagi (proliferation)

“Ketika seseorang dalam perasaan senang, dia tidak menikmati atau menegaskan atau menerimanya, kemudian tidak ada kecenderungan pokok yang berkeinginan untuk mendasarinya.
Ketika seseorang dalam perasaan sedih, dia tidak merasa sedih, berduka cita dan meratap, dia tidak memukuli dadanya, meneteskan air mata dan menjadi bingung, lalu tidak ada kecenderungan pokok yang bertahan mendasarinya.
Meskipun seseorang tidak dalam perasaan sedih maupun senang dia mengerti apa yang sebenarnya, asal dan akhir dari perasaan tersebut, atau kepuasan, bahaya dan pelarian (dalam setiap hal), lalu tidak ada kecenderungan pokok yang mengabaikan dasarnya.
Kemudian sesungguhnya, para bhikkhu, bahwa dia akan di sini dan mengakhiri penderitaan dengan menghentikan kecenderungan pokok untuk perasaan menyenangkan, dengan menghapus kecenderungan pokok untuk melawan perasaan menyakitkan, dan dengan menghapus kecenderungan pokok untuk mengabaikan perasaan yang tidak menyakitkan maupun yang tidak menyenangkan, menghentikan kebodohan dan mempunyai pengetahuan benar, hal itu mungkin.”

Contoh:
Seseorang melihat sesuatu, jika ia tak ada niat untuk mendapat lagi hal seperti itu, maka ia tak menindaklanjutinya.
Aplikasikan ini untuk keenam indra, dan lihat untuk keluruhan samyojana yang timbul.
Menghancurkan 5 Samyojana menjadi Anagami. Menghancurkan 10 menjadi Arahat/Buddha.

Samyojana satipatthana berkaitan dengan belenggu 4-10. 1-3 sudah dihancurkan sebelumnya.

Posted in Samyojana | 2 Comments »